//
you're reading...
Uncategorized

PENINGKATAN KOMPETENSI PAMONG BELAJAR DENGAN KELOMPOK KERJA DAN LESSON STUDY ( POLES )

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Pasal 1 UU No.20 Tahun 2003). Usaha tersebut di capai melalui jalur pendidikan yang terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Pendidikan memerlukan kesiapan semua komponen yang terlibat dalam pengelolaannya, sebagaimana telah ditetapkannya kriteria minimal tentang standar nasional pendidikan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005. Standar tersebut yang meliputi, standar isi; standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan; dan standar penilaian pendidikan.
Pamong Belajar merupakan tenaga pendidik pada pendidikan anak usia dini, nonformal dan informal (PAUDNI) yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), pengkajian program dan pengembangan model, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 15 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan angka Kreditnya. Dalam peraturan ini juga diatur rincian kegiatan pamong belajar sesuai dengan jenjang jabatannya.
Pamong belajar mempunyai peran strategis dalam meningkatkan mutu dan layanan program PAUDNI yang sesuai dengan perkembangan dan dinamika kebutuhan belajar masyarakat, sehingga menuntut pamong belajar yang profesional dan mampu mengikuti perkembangan dan dinamika tersebut. Hal itu untuk menjamin agar masyarakat mendapatkan layanan pendidikan nonformal yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan belajarnya dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian.
Kegiatan peningkatan kompetensi pamong belajar seperti pendidikan dan pelatihan (diklat) sudah dilaksanakan oleh instansi pembina pada tingkat pusat maupun daerah, akan tetapi tidak dapat menjangkau semua pamong belajar yang berjumlah 3.476 orang (IPABI, 2008). Selain itu kegiatan diklat juga membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Oleh karena itu perlu suatu cara yang efektif dan efisien guna meningkatkan kompetensi semua pamong belajar agar dapat melaksanakan tugas.

B. Permasalahan
Kenyataan belum semua pamong belajar dapat menjalankan tugas pokoknya sebagai pendidik. Misalnya pamong belajar di UPTD kab/kota belum melaksanakan pengkajian program dan pengembangan model, sedangkan pamong belajar di UPTD Provinsi masih ada yang belum melaksanakan tugas KBM. Dari 45 orang PB di DKI Jakarta hanya 30% yang berpengalaman melaksanakan pengembangan model, sementara yang lain hanya melaksanakan percontohan. Jadi lebih kurang 70% dari pamong belajar yang ada di DKI Jakarta belum berpengalaman dalam melaksanakan pengkajian dan pengembangan model yang seharusnya menjadi tugas semua pamong belajar. Hal ini dikarena beberapa hal, diantaranya; Pertama, tugas pokok pamong belajar tidak sinkron dengan tugas pokok dan fungsi lembaga tempat pamong bertugas. Dimana UPT Provinsi berfungsi sebagai pengembangan model dan UPT kabupaten/Kota adalah percontohan sehingga pamong belajar UPTD kab/kota tidak pernah melakukan pengembangan model dan sebaliknya pamong belajar UPTD provinsi sedikit sekali melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kedua, paradigma pamong belajar yang belum berubah yaitu kebanyakan bekerja sebagai pengelola program bukan sebagai pendidik. Ketiga, kompetensi pamong belajar yang masih rendah, terutama kompetensi profesional sebagai pendidik yang mempunyai tugas KBM, pengkajian program dan pengembangan model.
Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan masalahnya dalam karya tulis ini adalah bagaimana strategi bagi peningkatan kompetensi pamong belajar yang potensial efektif mendukung program PAUDNI.

C. Tujuan
Karya tulis ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang rancangan atau konsep strategi bagi peningkatan kompetensi pamong belajar yang potensial efektif mendukung program PAUDNI.

D. Strategi Pemecahan masalah
Pamong belajar merupakan orang dewasa yang memiliki ciri karakteristik tersendiri, konsep diri dan sejumlah pengalaman serta pemahaman sebagai sumber daya pembelajaran. Ciri pembelajaran orang dewasa adalah ingin terus belajar, digerakkan oleh motivasi, berorientasi masalah, belajar dari berbagai sumber dan belajar mandiri.
Metodologi yang sesuai untuk pembelajaran orang dewasa adalah 1) dipersiapkan suatu wadah dan struktur yang sesuai dengan kebutuhan dan pembelajaran orang dewasa; 2) bersifat praktis dan sesuai dengan kebutuhan; 3) relevan dengan kehidupan; 4) mengikuti sertakan keaktifan dan partisipasi; dan 5) sumber daya pengetahuan dan pengalaman yang dapat ditimba dan digali.
Suatu pendekatan yang menyeluruh untuk menyelesaikan permasalahan peningkatan kompetensi pamong belajar meliputi;
1. Pemetaan kompetensi pamong belajar guna mengetahui permasalahan terutama yang berkaitan dengan kompetensi yang dimiliki oleh pamong belajar untuk melaksanakan tugas.
2. Pengelompokan pamong belajar menjadi tiga kelompok kerja (Pokja) yaitu pokja pendidikan masyarakat (dikmas), pokja kursus dan pelatihan, serta pokja pendidikan anak usia dini (PAUD).
3. Peningkatan kompetensi melalui kegiatan yang menggunakan prinsip lesson study yang dilakukan pada masing-masing pokja pamong belajar.

II. PEMBAHASAN

A. Landasan Teori
Sagala (2003) menyatakan bahwa konstruktivisme (constructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Piaget dan Vygotsky adalah dua ahli psikologi yang sekaligus dua orang konstruktivis. Dia juga menekankan ada hakikat sosial dan belajar, dan keduanya menyarankan untuk menggunakan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggota kelompok yang berbeda-beda untuk mengupayakan perubahan konseptual.
Sejalan dengan pendekatan di atas konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu (Sagala, 2003).
Menurut kamus bahasa Indonesia kelompok mempunyai arti kumpulan (orang), atau golongan (profesi). Berarti juga kumpulan orang-orang yang memiliki atribut sama atau hubungan dengan pihak yang sama. Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk sebuah kelompok. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing-masing anggota (siapa yang menjadi ketua atau anggota). Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan perbedaan antara individu satu dengan lainnya sehingga timbul perpecahan (konflik). Perpecahan yang terjadi bisanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan bersama. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi. Langkah proses pembentukan tim diawali dengan pembentukan kelompok, dalam proses selanjutnya didasarkan adanya; 1) persepsi, 2) motivasi, 3) tujuan, 4) organisasi, 5) independensi, dan 6) interaksi.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia kerja berarti melakukan kegiatan sesuatu. Referensi lain menjelaskan bahwa kelompok kerja adalah sekumpulan orang, terdiri dari 2 anggota atau lebih yang; 1) mempunyai tujuan yang sama; 2) mempunyai kepentingan sama; 3) saling bekerjasama; 4) saling berhubungan; 5) memiliki rasa ikut bertanggung jawab; dan 6) saling tergantung satu dengan lainnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kelompok kerja yang dirancang dengan terencana dapat difasilitasi untuk melakukan kegiatan yang sangat berguna bagi pengembangan dan peningkatan kompetensi anggotanya sehingga menjadi lebih profesional dalam menjalankan tugas, sehingga diharapkan akan berdampak pada pelaksanaan program yang berkualitas, efesien dan efektif.
Selain itu ada juga bentuk lain kegiatan yang dapat dilakukan berkelompok yaitu lesson study. Pengertian Lesson Study menurut bahasa berasal dari bahasa Jepang “Jugyokenkyu”, yang merupakan gabungan dari dua kata yaitu “jugyo” berarti lesson atau pembelajaran, dan “kenkyu” yang berarti study atau research atau pengkajian (Dikti, 2008). Apabila dicermati definisi lesson study maka ditemukan 7 kata kunci yaitu pembinaan profesi, pengkajian pembelajaran, kolaboratiif, berkelanjutan, kolegalitas, mutual learning, dan komunitas belajar.
Selanjutnya dijelaskan bahwa lesson study bertujuan untuk melakukan pembinaan profesi pendidik secara berkelanjutan agar terjadi peningkatan profesionalitas pendidik terus-menerus dengan cara pengkajian pembelajaran secara kolaboratif. Lesson study membangun budaya yang memfasilitasi anggotanya untuk saling belajar, saling koreksi, saling menghargai, saling bantu, saling menahan ego. Prinsif kolegalitas dan mutual learning (saling belajar) diterapkan dalam berkolaborasi ketika melaksanakan kegiatan lesson study. Dengan kaata lain, peserta kegiatan lesson study tidak boleh merasa superior (merasa paling pintar) atau inferior (merasa rendah diri) tetapi semua peserta kegiatan lesson study harus diniatkan untuk saling belajar. Nara sumber dalam forum lesson study harus bertindak sebagai fasilitator, bukan instruktur.
Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:
1. Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.
2. Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.
3. Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.
4. Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.
5. Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa
6. Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.

B. Analisis Teori dan Pengalaman Lapangan
Pamong belajar adalah orang dewasa yang mempunyai pengalaman dan pemahaman sebagai sumber daya pembelajaran, sehingga untuk itu harus diberi ruang untuk membangun pengetahuan, sikap dan keterampilan. Menurut konstruktivisme pengalaman adalah bahan mentah yang akan diolah menjadi pengetahuan baru.
Kelompok merupakan wadah yang efektif untuk berinteraksi dan dapat menghasilkan konstruksi pengetahuan. Proses ini akan lebih terarah jika ada saling mengingatkan di dalam kelompok, yang berarti ada kegiatan saling membelajarkan. Banyak kelompok profesi yang mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama berinteraksi dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk saling berbagai informasi kepada anggotanya seperti Ikatan Pamong Belajar Indonesi.
Sementara pada dunia pendidikan formal telah banyak kelompok kerja pendidik antara lain kelompok kerja guru (KKG), musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) dan lainnya. Bahkan telah dikalim bahwa KKG dan MGMP memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan profesional guru (Depdiknas, 2008). Bahkan standar pengembangan dan opersional penyelenggaraan KKG dan MGMP ini telah dikembangkan oleh instansi yang berwenang terhadap pembinaan tenaga guru, dan ini berarti telah menjadi kebijakan dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan.
Hasil penelitian Aris Wahyu (2011) menyatakan bahwa peranan kelompok kerja sangat membantu bagi peningkatan mutu pendidikan, diantaranya:
1. Menambah kemampuan dan keterampilan intraksional pada guru, kepala sekolah maupun pengawas;
2. Memajukan pola dan jenis interaksi guru, kepala sekolah dan pengawas ke tahap yang lebih baik;
3. Mengembangkan perilaku dalam pengelolaan kelas yang lebih kreatif khususnya bagi guru;
4. Memiliki wawasan kependidikan yang lebih luas; dan
5. Memiliki tekad yang baik untuk maju bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Penelitian tentang lesson study dan pengaruhnya pada peningkatan kompetensi pendidik dan kualitas pembelajaran telah banyak dilakukan. Bahkan kegiatan ini telah menjadi bagian dari pembinaan profesi pendidik baik pada dosen maupun guru formal. Banyak penelitian menunjukan bahwa dipilihnya kegiatan lesson study sebagai usaha untuk meningkatkan professional guru melalui suatu mekanisme in-service training yang lebih berfokus pada upaya pemberdayaan guru sesuai dengan kapasitas serta permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing guru (Afif Afghohani, 2011).

C. Alternatif Pengembangan
Strategi peningkatan kompetensi merupakan suatu pendekatan secara menyeluruh yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan gagasan, dan proses serta cara untuk meningkatkan seperangkat pengetahuan, sikap dan kemampuan yang harus dimiliki atau dipersyaratkan guna melaksanakan tugas pamong belajar. Banyak pendekatan yang dapat dikembangkan seperti pendidikan dan latihan (diklat) berbasis kebutuhan dan permasalahan pamong belajar, lokakarya, seminar, studi banding, magang, diskusi dan lain sebagainya.
Dalam hal ini penulis mempunyai rancangan peningkatan kompetensi yang merupakan adopsi dari kegiatan yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi pendidik pada pendidikan formal seperti guru dan dosen. Selain itu juga dilakukan penyesuaia pada berbagai hal untuk dapat dilaksanakan pada pendidik PAUDNI khususnya pamong belajar seperti, tim atau wadah yang digunakan dan fokus dari kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan tugas pamong belajar. Kegiatan ini lebih pada tataran kemampuan aplikasi, sedangkan kemampuan pemahaman pengetahuan/konsep banyak dipelajari secara mandiri. Berikut adalah rancangan pokja dan lesson study yang penulis singkat dengan Poles.

1. Rasional
Pokja dan lesson study (Poles) merupakan istilah yang penulis gunakan dalam hal ini. Istilah “Poles” berarti kegiatan untuk menambahkan sesuatu sehingga kelihatan lebih bagus. Dalam hal ini penulis berasumsi jika pamong belajar itu dipoles dalam arti yang positif yaitu ditingkatkan kompetensi profesionalnya, penulis yakin bahwa pamong belajar akan kompeten dan potensial efektif dalam mendukung program PAUDNI.
Berdasarkan dari analisis teori dan pengalaman lapangan tersebut di atas, gagasan atau ide yang dianggap strategis guna meningkatkan kompetensi pamong belajar yaitu melalui pembentukan dan permberdayaan kelompok kerja (pokja) dengan kegiatan yang menggunakan prinsip dan tahapan lesson study yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Konsep saling membelajarkan dalam pokja akan sangat membantu peningkatkan kemampuan pamong belajar, disebabkan akan terjadi penularan kemampuan dari yang berpengalaman dan sekaligus mempraktekan dalam pokja pamong belajar.

2. Tujuan
Secara umum tujuan yang ingin dicapai dalam peningkatan kompetensi pamong belajar adalah :
a. Membentuk dan memberdayakan kelompok kerja (pokja) pamong belajar dalam peningkatan kompetensi.
b. Merancang kegiatan dengan prinsip lesson study dalam pokja pamong belajar sehingga dapat meningkatan kompetensi pamong belajar yang potensial efektif mendukung pelaksanaan program PAUDNI.
Secara operasional pokja pamong belajar bertujuan sebagai wadah untuk :
• Memberi kesempatan kepada anggota kelompok kerja untuk berbagi pengalaman serta saling memberikan bantuan dan umpan balik.
• Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang KBM, pengkajian program dan pengembangan model.
• Mengubah budaya kerja anggota pokja dan mengembangkan profesionalisme pamong belajar melalui kegiatan-kegiatan lesson study.

3. Implementasi
Proses implementasi strategi peningkatan kompetensi pamong belajar melalui pokja dan lesson study (Poles) dibahas sesuai dengan alur pikir sebagai berikut ;

a. Input
Sebagai input kegiatan peningkatan kompetensi adalah pamong belajar dengan tuntutan standar kompetensi dan tugas pokoknya. Standar kompetensi pamong belajar meliputi kompetensi pedagogik/andragogik. Adapun tugas pamong belajar meliputi :
1) Kegiatan belajar mengajar dengan rincian sebagai berikut;
a) Perencanaan pembelajaran/pelatihan/pembimbingan
b) Pelaksanaan pembelajaran/pelatihan/pembimbingan
c) Penilaian hasil pembelajaran/pelatihan/pembimbingan
2) Pengkajian program PAUDNI, dengan rincian sebagai berikut;
a) Persipan pengkajian program
b) Pelaksanaan pengkajian program
3) Pengembangan model PAUDNI, dengan rincian sebagai berikut;
a) Perencanaan pengembangan model
b) Pelaksanaan pengembangan model
Dimana setiap tugas tersebut di atas telah diatur secara rinci dan menjadi tahapan dalam melaksanakan setiap tugas. Jika dianalisa lebih lanjut untuk melaksanakan tugas tersebut membutuhkan kompetensi sebagai berikut :
1) Memahami kebutuhan belajar, sumber belajar, karakteristik, potensi dan permasalahan serta perkembangan peserta didik.
2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran pedagogi dan andragogi
3) Menguasai konsep keilmuan yang relevan untuk kegiatan pembelajaran, pengkajian, dan pengembangan model.
4) Menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
5) Melakukan kegiatan pembelajaran, pengkajian program dan pengembangan model.
6) Menguasai konsep, prinsip-prinsip, metode dan teknik penelitian.
7) Menguasai pengetahuan dan keterampilan fungsional.

b. Proses
1) Pemetaan komptensi
Pemetaan kompetensi merupakan kegiatan untuk mengetahui kompetensi pamong belajar dengan cara menilai diri sendiri oleh pamong belajar tentang kemampuannya untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Untuk itu perlu suatu instrumen yang berisi antara lain :
• Pengalaman kerja pamong belajar sebagai pendidik menurut tugas pamong belajar sesuai jenjang jabatan masing-masing.
• Penilaian diri (minat, bakat dan kompetensi profesional untuk melaksanakan tugas pokok pamong belajar)
Hasil penilaian diri ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan kompetensi pamong belajar, yang akan menjadi acuan pada kegiatan peningkatan kompetensi. (conton instrumen penilaian diri terlampir).

2) Pembentukan kelompok kerja (pokja) pamong belajar
Pengelompokan pamong belajar dalam kelompok kerja selain untuk kepentingan penyelesaian tugas oleh lembaga, bertujuan agar pamong belajar lebih fokus pada program yang menjadi tugas dan kajiannya.
Hasil penilaian tersebut di atas menjadi acuan dalam kegiatan mengelompokkan pamong belajar menjadi 3 (tiga) kelompok kerja yaitu 1) Pokja kajian Dikmas,
2) Pokja kajian kursus dan pelatihan, dan;
3) Pokja PAUD.
Masing-masing pokja akan beranggotakan pamong belajar yang telah berpengalaman sebagai pengembangan model dan pamong belajar yang berpengalaman dalam pelaksanaan percontohan atau KBM. Pengelompokan ini dapat saja didasarkan kebutuhan kerja yang ditetapkan oleh lembaga.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Pokja adalah;
• Kelompok kerja ini ditetapkan oleh kepala UPT sebagai penanggung jawab pembina pamong belajar sehingga menjadi suatu kebijakan yang mempunyai dasar hukum yang kuat, sehingga menjadi aturan yang harus diikuti oleh semua pihak.
• Ditetapkan seorang koordinator pokja yang dipilih oleh anggota pokja itu sendiri sehingga lebih bersifat demokratis dan dapat diikuti oleh semua anggota.
Masing-masing pokja menetapkan tujuan dan menyusun program atau kegiatan yang akan dilakukan. Semua hal ini menjadi kesepakatan di dalam pokja dan diharapkan semua anggota pokja mempunyai komitmen dengan tujuan yang telah ditetap secara bersama-sama di dalam pokja.

3) Kegiatan peningkatan kompetensi dengan prinsip lesson study
Kegiatan ini mengunakan prinsip dan tahapan lesson study yang dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi professional pamong belajar. Berikut tahapan kegiatan lesson study untuk peningkatan kompetensi professional berbasis pelaksanaan tugas pamong belajar sebagai berikut :
a) Kegiatan belajar mengajar ;
(1)Tahapan Perencanaan (Plan)
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk diskusi terfokus (FGD) dengan topik menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti teknik dan metode membelajarkan peserta didik, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan yang ada. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, sehingga rencana pelaksanaan pembelajaran ini menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang di dalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran. Dipersiapkan juga lembar observasi yang akan digunakan pada waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
(2) Tahapan Pelaksanaan (Do)
Kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang pendidik yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun bersama pada tahapan perencanaan, dan kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, di antaranya:
• Salah seorang anggota pokja melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
• Peserta didik diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural.
• Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat atau tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi tutor maupun peserta didik.
• Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi antar peserta didik, peserta didik-bahan ajar, peserta didik-tutor, peserta didik-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
• Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi tutor.
• Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.
• Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar peserta didik selama pembelajaran berlangsung, Sehingga mudah dilihat terjadinya proses konstruksi pemahaman peserta didik melalui aktivitas belajar pembelajaran. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar peserta didik yang tercantum dalam rencana pembelajaran.
(3) Tahapan Refleksi (Check)
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk diskusi terfokus (FGD) yang diikuti seluruh anggota pokja yang dipandu oleh koordinator atau anggota yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan pendidik yang telah mempraktikkan pembelajaran, dan menyampaikan komentar atau kesan atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun. Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap tutor yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-sarannya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh anggota untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh anggota pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi. Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran. Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para anggota, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik. Kesimpulan dapat juga merekomendasikan untuk kegiatan pengkajian yang lebih mendalam terhadap kegiatan pembelajaran.

b) Pengkajian program
(1) Tahapan Perencanaan (Plan)
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk diskusi terfokus (FGD) dengan menganalisis permasalahan atau kesimpulan serta rekomendasi dari kegiatan atau lesson study sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan berikut :
• Menyusun rencana kegiatan pengkajian program pembelajaran oleh tim anggota yang ditunjuk atau disepakati.
• Membahas rencana kegiatan pengkajian secara bersama-bersama.
• Menyusun instrumen pengkajian
• Melakukan validasi instrumen serta revisi instrumen.
(2) Tahapan Pelaksanaan (Do)
Pada tahapan ini kegiatan orientasi disepakati pembagian tugas dan pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :
• Melakkan orientasi kepada petugas pengambilan data.
• Melaksanakan pengambilan data ke lapangan atau responden.
• Melakukan pengolahan dan penyajian data..
(3) Tahapan Refleksi (Check)
Pada tahap ini dilaksanakan pembahasan hasil penyajian data dengan teknik diskusi terfokus (FGD) di antara anggota pokja. Pembahas menyampaikan hasil pengolahan dan penyajian data, Petugas pengambilan data menyampaikan temuan lapangan yang sekira bermanfaat dalam membahas hasil pengkajian. Pada tahap ini ditetapkan kesimpulan dan temuan-temua serta rekomendasi sebagai bahan tindak lanjut pada siklus lesson study berikutnya, yaitu hal-hal yang perlu dilanjutkan dengan kegiatan pengembangan model pembelajaran.

c) Pengembangan model
(1) Tahapan Perencanaan (Plan)
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk diskusi terfokus (FGD) dengan kegiatan analisis kesimpulan dan rekomendasi dari siklus lesson study sebelumnya atau kegiatan pengkajian program. Kegiatan ini meliputi ;
• Pembahasan aspek-aspek dan permasalahan yang memerlukan tindak lanjut pengembangan model.
• Penyusunan rencana kegiatan pengembangan model yang meliputi rancangan pengembangan dan ujicobanya.
• Membahas rencana kegiatan pengembangan model termasuk draf model dan rancangan ujicobanya.
• Menyusun bahan dan instrumen yang dibutuhkan dalam kegiatan pengembangan model
(2) Tahapan Pelaksanaan (Do)
Pada tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan meliputi;
• Melaksanakan workshop formulasi model dalam bentuk FDG;
• Melakukan revisi draf model;
• Melaksanakan ujicoba model;
• Melaksanakan workshop hasil ujicoba model.
• Melakukan revisi model.
(3) Tahapan Refleksi (Check)
Pada tahapan ini dilaksanakan diskusi terfokus tentang aspek-aspek temuan-temuan dan permasalahan serta hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan pengembangan model. Pada tahap ini dapat disimpulkan hal-hal yang menjadi pengetahuan baru bagi semua anggota pokja, dan membuat kesimpulan serta rekomendasi sebagai bahan kajian pada siklus lesson study berikutnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kegiatan lesson study berbasis tugas pokok pamong belajar ini dapat terus berkelanjutan guna meningkatkan kompetensi pamong belajar dalam menjawab kebutuhan dan layanan program PAUDNI yang efektif bagi masyarakat.

c. Output
Diharapkan dengan kegiatan yang menggunakan prinsip lesson study ini kompetensi profesioanal pamong belajar dapat meningkat sehingga dapat melaksanakan tugas sebagai pendidik. Peningkatan kompetensi pamong belajar tersebut dapat dilihat dengan indikator keberhasilan sebagai berikut :
• Pamong belajar mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada program PAUDNI dengan menerapkan prinsip dam teknik pembelajaran guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara maksimal.
• Pamong belajar mampu melaksanakan pengkajian program PAUDNI dengan menggunakan teknik dan metode penelitian yang benar.
• Pamong belajar mampu melaksanakan pengembangan model PAUDNI dengan teknik dan metode pengembangan yang benar guna menjawab kebutuhan dan layanan program PAUDNI.

d. Outcame
Dengan meningkatnya kompetensi professional pamong belajar diharapkan pamong belajar dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik secara kompeten. Hal ini tentu saja berpotensi efektif dapat meningkatkan kualitas program PAUDNI.

4. Evaluasi
Evaluasi terhadap kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat ketercapaian tujuan peningkatan kompetensi professional pamong belajar. Indikator yang digunakan adalah pemahaman terhadap kompetensi professional dan aplikasinya dalam pelaksanakan tugas pamong belajar sebagai pendidik. Kemampuan tersebut dapat dilihat dari kualitas hasil kerja atau produk yang dihasilkan oleh pamong belajar dalam melaksanakan tugas.

III. PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendekatan yang menyeluruh terkait peningkatan kompetensi profesional pamong belajar dalam mendukung pelaksanaan program PAUDNI yang berkualitas adalah melalui pemetaan kompetensi untuk mengetahui permasalahan pamong belajar. Pembentukan wadah yang disebut kelompok kerja (Pokja) pamong belajar, yang terdiri dari Pokja kajian Pendidikan Masyarakat (Dikmas), Pokja kajian kursus dan pelatihan, serta pokja kajian Pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan tujuan lebih memfokuskan substansi tugas pamong belajar.
Pada masing-masing pokja dilakukan kegiatan peningkatan kompetensi dengan menggunakan prinsip-prinsip lesson study. Dengan peningkatan kompetensi profesional tersebut diharapkan pamong belajar dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yaitu melaksanakan KBM, pengkajian program dan pengembangan model. Dengan demikian akan berdampak pada pelaksanakan program PAUDNI yang efektif.

B. Rekomendasi
Konsep kegiatan peningkatan kompetensi pamong belajar melalui pokja dan lesson study (Poles) dapat dijadikan sebuah strategi peningkatan kompetensi pamong belajar yang efektif dan efisien, dimana tujuan peningkatan kompetensi dapat dicapai maksimal karena aplikatif dan menghemat biaya serta menjangkau seluruh pamong belajar.
Penerapan konsep ini membutuhkan komitmen dari berbagai pihak, yaitu pihak lembaga/UPT dan pamong belajar. Lembaga/UPT harus komitmen dalam fasilitasi pembentukan dan kegiatan pokja. Sedangkan pamong belajar harus komitmen untuk mengikuti rencana kegiatan yang sudah disusun pada masing-masing pokja.

DAFTAR PUSTAKA
Afif Afghohani, Utami Murwaningsih, Andhika Ayu W, dan Januar Budi. Peningkatan Profesionalitas Guru dan Kualitas Proses Pembelajaran di SMA Veteran 1 Sukoharjo melalui Penerapan Kegiatan Lesson Study. 2011. http://lppmbantara.com/pros_01247252.pdf

Bill Cerbin & Bryan Kopp. A Brief Introduction to College Lesson Study. Lesson Study Project. online: http://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm

Depdiknas. Standar Pengembangan KKG dan MGMP. Jakarta: Dir. Profesi Pendidik PMPTK, 2008.

Depdiknas. Panduan Pelaksanaan Lesson Study di L PTK. Jakarta: Dir. Ketenagaan Dikti, 2008.

Maryumis, Aleks. Dalam Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta; Kencana, 2004.

Sagala, Syaiful.. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, 2003.

Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.

Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No.15 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kreditnya.

http://kamusbahasaindonesia.org (diakses pada tanggal 24 Juli 2013)

http://id.wikipedia.org (diakses pada tanggal 24 Juli 2013)

http://id.wikipedia.org (diakses pada tanggal 24 Juli 2013)

http://ellopedia.blogspot.com/2010/09/kelompok-kerja.html (diakses pada tanggal 25 Juli 2013)

http://ariswahyu.blogspot.com/2011/07/peranan-kelompok-kerja-kkg-mgmp-kkks.html (diakses pada tanggal 25 Juli 2013)

(Tulisan disajikan dalam kegiatan APRESIASI PTK PAUDNI Tahun 2013 Di Batam)

About eva umar

PB SKB Jakarta Selatan P3PNFI DKI Jakarta

Diskusi

2 thoughts on “PENINGKATAN KOMPETENSI PAMONG BELAJAR DENGAN KELOMPOK KERJA DAN LESSON STUDY ( POLES )

  1. kerja dan kerja dong…

    Posted by salam sukarami | Januari 25, 2015, 6:03 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2015
S S R K J S M
« Jun   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

Eva Umar

%d blogger menyukai ini: