//
you're reading...
Konsep

Lesson Studi Sebagai Model Pembinaan Tutor Pendidikan Kesetaraan

BAB I

PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang

Pendidikan kesetaraan merupakan salah satu program pendidikan dasar dan menengah pada jalur pendidikan nonformal setara SD/SMP/SMA. Pendidikan Kesetaraan diperuntukkan bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal atau berminat dan memilih Pendidikan Kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan dasar dan menengahnya. Adapun pemegang ijazah Program Pendidikan Kesetaraan memiliki hak eligibilitas yang sama dengan ijazah SD/SMP/SMA (Depdiknas 2007: 3).

Melalui Program pendidikan kesetaraan ini, pemegang ijazah atau peserta didik diharapkan dapat menguasai kompetensi dasar seperti kognitif, afektif dan psikomotorik. Peserta didik yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa mereka telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan perkataan lain, mereka telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Inilah hakikat pembelajaran, yaitu membekali peserta didik untuk bisa hidup mandiri kelak setelah dewasa tanpa tergantung pada orang lain, karena ia telah memiliki kompetensi, dan kecakapan hidup (life skill).

Pola penyelenggaraan kesetaraan masih mengacu pada paradigma lama, sementara tuntutan sekarang harus memenuhi standar proses pendidikan kesetaraan yang telah diatur oleh Permendiknas No.3 Tahun 2008 tentang standar proses pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B dan Paket C.

Sementara proses pembelajaran pendidikan kesetaraan pada umumnya sampai saat ini masih mengunakan paradigma lama, sedangkan tuntutan pelaksanaan pembelajaran adalah membelajarkan peserta didik. Dengan diberlakukannya Permen No.14 tahun 2007 tentang standar isi program paket A, B, dan C semestinya dilaksanakan juga secara komprehensif. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan, masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi peserta didik. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah, paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan peserta didik.

Dengan kenyataan tersebut kebutuhan akan pembinaan tentang penyelengaraan pendidikan kesetaraan yang akan bermuara pada kompetensi lulusan atau peserta didik sangat diperlukan. Apalagi pendidikan kesetaraan khususnya Paket C sekarang ini banyak dilaksanakan oleh berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta antara lain SKB, PKBM, Lembaga kursus, lembaga swadaya masyarakat, dan lain sebagainya. Di wilayah kerja SKB Jakarta Selatan saja lebih dari 40 lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) baik milik swasta atau pemerintah telah melaksanakan pendidikan kesetaraan Paket C, yang membutuhkan pembinaan sehingga diharapkan menghasilkan Paket C yang bukan saja lulus dalam Ujian Nasional, tapi mempunyai kompetensi berusaha mandiri atau bekerja.

B.        Dasar

Satuan Pendidikan Kesetaraan sejogjanya harus memberikan peluang berkembangnya potensi peserta didik sesuai dengan konteks lokal dan kebutuhan, sehingga perlu disusun suatu model pembinaan yang mampu mengakomodasi semua hal tersebut.

Adapun dasar dari pembinaan pendidikan kesetaraan, antara lain :

1.    UU No.  20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 5 ayat (1) dan (3).

2.    UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah yang berkenaan dengan /demokrasi dalam pelaksanaan pendidikan

3.    Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Propinsi sebagai Daerah Otonom.

4.    Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah.

5.    PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 26 ayat (1) dan (2).

6.    Inpres Nomor 1 tahun 1994 tentang Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.

7.    Keputusan Mendikbud No. 0131/U/1994 tentang Paket A dan Paket B.

8.    Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan pendidikan Dasar dan Menengah.

9.    Permendiknas No.  14 Tahun 2007 tentang Standar Isi untuk Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C.

10. Permendiknas No.3 Tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C.

C.        Tujuan

Tujuan dari model pembinaan program pendidikan kesetaraan antara lain :

1.       Agar penyelenggara dapat melaksanakan tahapan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan Paket C yang memberikan kesempatan berkembangnya potensi peserta didik sehingga menghasilkan lulusan yang bermutu, sesuai dengan standar nasional pendidikan.

2.       Agar tutor dalam hal ini dapat meningkatkan kompetensi sebagai pendidik melalui suatu kegiatan yang dilakukan sesama pendidikan dalam suatu wadah pembinaan.

3.       Menjadi acuan dalam pelaksanaan pembinaan program pendidikan kesetaraan baik ditingkat wilayah maupun di tingkat Dinas Pendidikan.

 

 

D.        Pengertian

Pembinaan adalah suatu usaha yang dilakukan dengan sadar, terencana, teratur, terarah dan bertanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan dalam rangka peningkatan kualitas program pendidikan kesetaraan.

Pendidikan Kesetaraan adalah pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum, meliputi program Paket A Setara SD/MI, Paket B Setara SMP/MTs, dan Paket C Setara SMA/MA.

Tutor atau Pendidik adalah tenaga pendidik non formal yang bertanggung jawab merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran pada kelompok belajar.

Pengelola adalah tenaga kependidikan non formal yang bertanggung jawab atas proses pembelajaran atau sebagai pengawas jalannya proses pembelajaran yang meliputi pemantauan, supervise, evaluasi, pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut yang diperlukan.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar tertentu dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang relevan dan mengacu pada kurikulum yang berlaku.

BAB II

LANDASAN KONSEPTUAL

 

A.        Pendidikan Kesetaraan

Pendidikan Kesetaraan merupakan pendidikan nonformal yang mencakup program Paket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/MTs, dan Paket C setara SMA/MA dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional, serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik. Pendidikan kesetaraan berfungsi sebagai layanan jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur pendidikan nonformal.

Program Paket A adalah program pendidikan dasar pada jalur nonformal setara SD/MI bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal atau berminat dan memilih pendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan.

Program Paket B adalah pendidikan dasar pada djalur nonformal setara SMP/MTs bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal atau berminat dan memilih pendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan dasar.

Program Paket C adalah program pendidikan menengah pada jalur pendidikan nonformal setara SMA/MA bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal atau berminat dan memilih pendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan menengah.

Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan yang dilakukan melalui semua ujian yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan untuk dapat dinyatakan lulus dari satua pendidikan.

Pemegang ijazah Program Paket A, Paket B dan Paket C memiliki hak eligibilitas yang sama dengan dengan pemegang ijazah SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA.

Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan kesetaraan baik Pakat A, Paket B dan Paket C harus dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik (Permendiknas No.3 Tahun 2008).

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar baik lingkungan pendidikan formal maupun nonformal (Depdiknas, 2008: 1). Hal ini berarti bahwa pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik pada suatu lingkungan belajar tertentu dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang relevan dan mengacu pada kurikulum yang berlaku.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran antara lain jumlah maksimal peserta didik per kelas atau rombongan belajar dan beban mengajar maksimal per pendidik, rasio maksimal jumlah peserta didik per pendidik, serta mengembangkan budaya membaca dan menulis (Nurani, 2008:1).

Pembelajaran yang baik memerlukan suatu proses perencanaan yang disusun secara matang dan sesuai dengan standar proses pendidikan kesetaraan yang meliputi: Perencanaan Proses Pembelajaran, Pelaksanaan Pembelajaran, Penilaian Proses dan Hasil Pembelajaran, dan Pengawasan Proses Pembelajaran. Standar Proses Pendidikan Kesetaraan ini kemudian dirumuskan dalam Kurikulum Pendidikan Kesetaraan.

Kurikulum Pendidikan Kesetaraan yang berlaku untuk saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau disingkat KTSP. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini dijelaskan bahwa Perencanaan Proses Pembelajaran meliputi: Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indicator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

Untuk mendukung perencanaan proses pembelajaran ini diperlukan beberapa faktor diantaranya: kerangka dasar dan struktur kurikulum Program kesetaraan, keadaan pendidik dan tenaga kependidikan, sasaran pendidikan dalam hal ini peserta didik, sarana dan prasarana, dan pengawasan oleh penyelenggara atau pihak lain yang berkompeten.

Struktur kurikulum pendidikan kesetaraan merupakan pola susunan mata pelajaran dan beban belajar yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, meliputi mata pelajaran dan bobot satuan kredit kompetensi (SKK). SKK menunjukkan bobot kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti program pembelajaran, baik melalui tatap muka, praktek keterampilan, dan atau kegiatan mandiri. Satu SKK adalah satu satuan kompetensi yang dicapai melalui pembelajaran 1 jam tatap muka atau  2 jam tutorial atau 3 jam atau kombinasi secara proporsional dari ketiganya. Satu jam tatap muka yang dimaksud adalah satu jam pembelajaran yaitu sama dengan 40 menit.

Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan. Peserta didik yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa peserta didik telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan perkataan lain, ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Inilah hakikat pembelajaran, yaitu membekali peserta didik  untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain, karena ia telah memiliki komptensi, kecakapan hidup. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami.

Kompetensi yang harus dimiliki peserta didik selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran, aplikasi, analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi, komunikasi, inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas, pemecahan masalah), kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri, pengelolaan suasana hati, pengendalian impulsi, motivasi aktivitas positif, empati), dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi, presentasi, prilaku). Istilah psikologi kontemporer, kompetensi/ kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik, terutama kognitif) disebut dengan hard skill, yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian, sosialisasi, dan pengendalian diri disebut dengan soft skill, yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua.

B.        Lesson Study

Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Slamat Mulyana, 2007). Lesson Study merupakan suatu model ”teacher profesional development”.

Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang konsisten dan sistemantis melakukan perbaikan diri, baik  pada tataran individual maupun manajerial.

Melalui kegiatan Lesson Study dikembangkan pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik agar belajar secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan melalui hands-on dan mind-on activity, daily life, dan local materials. Kegiatan Lesson Study ini sudah dikembangkan oleh banyak lembaga pendidikan dan sangat potensial sebagai model alternatif pembinaan tenaga pendidik untuk meningkatkan keprofesionalannya. Sebagai dampak akumulatif dari kegiatan Lesson Study ini diharapkan terjadi peningkatan mutu pendidikan di tanah air.

Mengingat keberhasilan penerapan Lesson Study ini pada pendidikan formal. Diharapkan bagi tutor kesetaraan berupaya untuk mengaplikasikan pendekatan tersebut. Sementara itu pola peningkatan kemampuan tutor kesetaraan yang dilakukan selama ini lebih terfokus pada diklat yang hanya dapat merekrut beberapa orang saja.

Dari informasi yang diperoleh dari beberapa petugas lapangan ternyata juga menunjukkan bahwa kemampuan dan keterampilan yang diperoleh saat diklat tidak dapat berkembang lebih lanjut bahkan ada beberapa yang justru menurun. Hal ini disebabkan tidak adanya media yang dapat digunakan untuk saling berdiskusi dengan sesama tutor dan juga tidak ada momen yang dapat digunakan untuk me-review langkah-langkah yang dilaksanakan seorang tutor kesetaraan dalam pembelajaran.

Penerapan Lesson Study dapat meningkatkan kompetensi Tutor, terutama yang terkait dengan pengetahuan materi pokok, pengetahuan pengajaran, pengetahuan riset, kapasitas mengamati siswa, menghubungkan praktik sehari-hari dengan tujuan jangka panjang, motivasi, hubungan dengan kolega dan saling bantu, komitmen, dan akuntabilitas (Lesmini, 2006).

Lesson study melepaskan ketergantungan dari Tutor dan kurikulum yang rigid, membawa Tutor dan siswa menjadi lebih aktif dan memiliki visi lebih luas, serta memberikan ruang bagi munculnya sebuah solusi pembelajaran yang bersifat aplikatif. Lesson study merupakan proses yang mengkolaborasikan Tutor dalam kelompok untuk merencanakan, mengajar, mengobservasi, meninjau kembali dan melaporkan hasilnya pada aplikasi dalam pengajaran individu.

Menurut Cerbin dan Kopp (2005) ada 4 alasan utama yang memotivasi penggunaan lesson study yaitu:

a.    Agar memahami lebih baik bagaimana peserta didik memahami apa yang diajarkan

b.    Untuk menciptakan produk yang bisa digunakan oleh pendidik lain dikelompok

c.    Untuk memperbaiki cara mengajar termasuk sistematika, penemuan secara kolaborasi

d.    Untuk membentuk pengetahuan pedagogi yang berdasar pada manfaat apa yang dapat Tutor terima sebagai pengetahuan lain dalam mengajar.

Secara umum penerapan lesson study dilakukan dalam 6 tahap (Cerbin dan Kopp, 2005) yaitu: a) membentuk Tim, b) menentukan tujuan belajar, c) merencanakan Pembelajaran, d) mengumpulkan fakta-fakta dari proses pembelajaran, e) menganalisis fakta-fakta pada pembelajaran, dan e) mengulangi proses.

Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:

1.     Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.

2.     Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.

3.     Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.

4.     Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.

BAB III

LINGKUP ISI

A.        Strategi

            Pembinaan pelaksanaan kelompok belajar pendidikan kesetaraan dapat dilakukan melalui :

  1. Bimbingan langsung

Ini dimaksudnya SKB Melakukan bimbingan secara teknis langsung ke kelompok belajar menyangkut hal-halnya yang sifatnya spesifik bagi kelompok belajar yang bersangkutan. Bimbingan dapat dilakukan berdasarkan permintaan atau kebutuhan kelompok belajar kesetaraan.

  1. Workshop

Pola pembinaan dengan strategi workshop dilaksanakan bagi dalam mengatasi hal-hal yang tidak mungkin dilakukan sendiri oleh kelompok belajar, seperti penyusunan KTSP, media belajar dan sebagainya. Hasil workshop dapat digunakan bersama dengan penyesuaian pada masing-masing kelompok belajar.

  1. Lesson study

Kegiatan ini dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidik atau tutor dalam mengelola pembelajaran pada kelompok belajar. Kegiatan ini selain menjadi wadah saling membelajarkan, juga dapat mengkaji bersama materi-materi pokok dalam pembelajaran untuk menemukan pola pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan. Dan juga untuk membentuk komunitas belajar bagi tenaga pendidik.

 

B.        Model

            Pembinaan Pendidikan Kesetaraan mengacu pada standar nasional pendidikan, dalam hal Permendiknas No. 3 Tahun 2008 tentang standar proses program Paket A, Paket B dan Paket C dan Permen diknas No.14 Tahun 2007 tentang standar isi Program Paket A, Paket B dan Paket C.

            Standar proses membahas tentang persyaratan, persiapan proses pembelajaran, pelaksanaan, serta penilaian proses pembelajaran. sedangkan standar isi adalah acuan yang dipakai dalam penyusunan kurikulum dan proses pembelajaran  diantaranya Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang harus dicapai peserta didik.

Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan SKB Jakarta Selatan menjadi rujukan dalam model pembinaan, yang selanjutnya akan dibahas pada tahapan kegiatan berikut ini.

 

C.        Tahapan Kegiatan Kesetaraan

a.   Sosialisasi

            Kegiatan kesetaraan perlu disosialisasikan kepada masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dapat dilakukan dalam forum-forum khusus sosialisasi pendidikan kesetaraan ataupun pertemuan-pertemuan yang dilakukan satuan pendidikan non formal dengan masyarakat serta instansi lain.

Dan secara tidak langsung melalui informasi cetak berbentuk leaflet atau brosur-brosur, spanduk dan sebagainya yang bersifat mensosialisasikan program pendidikan kesetaraan.

b.    Identifikasi

kegiatan ini merupakan kegiatan untuk mengetahui potensi yang tersedia berupa sarana dan prasarana pembelajaran, nara sumber/tutor maupun peserta didik.

  1. Sarana dan prasarana meliputi tempat dan perlengkapan yang dapat digunakan dan mendukung terjadinya proses pembelajaran. Tempat belajar harus kondusif bagi terjadinya pembelajaran. Sebaiknya dilengkapi dengan kursi dan meja untuk belajar, nyaman, cukup ventilasi udara, cukup ruang untuk belajar. Sebaiknya disediakan taman bacaan bagi peserta didik guna mendukung proses pembelajaran.
  2. Tutor adalah merupakan ujung tombak kegiatan pembelajaran karena berhadapan langsung dengan warga belajar. Tutor hendaknya memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan dan standar kompetensi minimal sebagai tenaga pendidik, yakni berkualifikasi minimal S1 atau D IV, mengacu pada PP No. 19 tahun 2005. Standar kompetensi minimal yang harus dimiliki bagi seorang Tutor adalah kompetensi kepribadian, pedagogik/andragogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Tutor yang professional adalah yang mampu mewujudkan keinginan warga belajar untuk senantiasa mau belajar dan mampu mewujudkan harapan-harapan orang tua, penyelenggara dan masyarakat pada umumnya di mana ia melaksanakan tugasnya. Pendidik harus berakhlak mulia, sabar, dedikasi, ikhlas, memiliki etos kerja yang tinggi, dan memiliki jiwa sosial.
  3. Peserta didik

Sistem rekruitmen peserta didik pendidikan kesetaraan ditempuh melalui :

  • Promosi melalui brosur dan pemasangan spanduk pada tempat strategis.
  • Identifikasi langsung ke sasaran melalui jalur RW, RT, PKK dan dewan kelurahan.
  • Penyampaian informasi  program melalui pengajian, yayasan, dan mitra kerja.

Penempatan peserta didik pada tingkatan tertentu selaras dengan yang akan diikuti, dilaksanakan dengan mempertimbangkan :

1.   Hasil pendidikan terakhir yang telah dicapai, dibuktikan dengan dokumen resmi seperti rapor dan/atau ijazah.

2.   Pengalaman belajar peserta didik yang dapat dibuktikan melalui portofolio, dan tes penempatan oleh lembaga yang berwenang.

c.         Perencanaan Proses Pembelajaran

            Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

a). Silabus

Silabus sebagai acuan pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pendidikan kesetaraan Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu sesuai dengan jenis layanan pembelajaran, dan sumber belajar.

Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI). Kurikulum pendidikan kesetaraan Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C disusun oleh dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

b). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap pendidik berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, perkembangan fisik dan psikologis, serta lingkungan peserta didik.

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam aktivitas pembelajaran. Pendidik merancang penggalan RPP untuk setiap aktivitas pembelajaran yang disesuaikan dengan penjadualan di satuan pendidikan. Komponen RPP adalah:

1. Identitas mata pelajaran

2. Standar kompetensi

3. Kompetensi dasar

4. Indikator pencapaian kompetensi

5. Tujuan pembelajaran

6. Materi ajar

7. Alokasi waktu

8. Metode pembelajaran

9. Kegiatan pembelajaran (Pendahuluan, Inti, Penutup)

10. Sumber belajar

11. Penilaian hasil belajar

Dalam penyusunan RPP harus memperhatikan prinsip-prinsip Penyusunan RPP antara lain :

1.    Memperhatikan perbedaan individu peserta didik

2.    Mendorong partisipasi aktif peserta didik

3.    Mengembangkan budaya membaca dan menulis

4.    Memberikan umpan balik dan tindak lanjut

5.    Keterkaitan dan keterpaduan

6.    Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

 

c). Beban Belajar dan Kegiatan Pembelajaran

1.   Beban belajar Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C dinyatakan dalam SKK yang menunjukkan bobot kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti program pembelajaran. SKK merupakan ukuran kegiatan pembelajaran yang pelaksanaannya fleksibel.SKK dapat digunakan untuk alih kredit kompetensi yang diperoleh dari jalur pendidikan formal, informal, kursus, keahlian, dan pengalaman yang relevan.

2.   Kegiatan pembelajaran sistem SKK

Setiap peserta didik wajib mengikuti kegiatan pembelajaran baik dalam bentuk tatap muka, tutorial, maupun mandiri sesuai dengan jumlah SKK yang tercantum dalam Standar Isi Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C. Pengaturan kegiatan pembelajaran adalah tatap muka minimal 20%, tutorial minimal 30%, dan mandiri maksimal 50%. (beban SKK dapat dilihat pada Standar Isi Permendiknas No.14 Tahun 2007).

d.    Pelaksanaan Proses Pembelajaran

a)   Persyaratan Pelaksanaan Proses Pembelajaran adalah :

1). Rombongan belajar, jumlah maksimal peserta didik per rombongan belajar adalah :

  • Program Paket A setara SD/MI : 20 peserta didik
  • Program Paket B setara SMP/MTs : 25 peserta didik
  • Program Paket C setara SMA/MA : 30 peserta didik

Penetapan jumlah tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan ketersediaan sumber daya satuan pendidikan.

2). Penyelenggara pembelajaran berkewajiban menyediakan:

a)). Pendidik sesuai dengan tuntutan mata pelajaran.

b)). Jadual tutorial minimal 2 hari per minggu.

c)). Sarana dan prasarana pembelajaran.

3. Buku teks pelajaran, modul dan sumber belajar lain

a)). Buku teks pelajaran dan modul dipilih oleh pendidik dan satuan pendidikan untuk digunakan sebagai panduan dan sumber belajar.

b)). Rasio buku teks pelajaran dan modul untuk peserta didik adalah 1 : 1 per mata pelajaran.

c)). Pendidik menggunakan buku penunjang pelajaran berupa buku panduan pendidik, buku referensi, buku pengayaan, dan sumber belajar lain yang relevan.

d)). Pendidik membiasakan peserta didik menggunakan buku-buku dan sumber belajar lain yang ada di perpustakaan.

b). Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan ini dilakukan bagi dalam pembelajaran tatap muka, tutorial maupun mandiri.

a.   Kegiatan pendahuluan yaitu menyiapkan kondisi pembelajaran agar peserta didik terlibat baik secara psikis maupun fisik sehingga siap mengikuti proses pembelajaran.

b.   Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

c.   Kegiatan penutup, kegiatan bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman/ kesimpulan pelajaran, melakukan penilaian, umpan balik, rencana tindak lanjut.

e.         Penilaian Hasil Pembelajaran

Penilaian dilakukan oleh pendidik terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.

Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan menggunakan tes dalam bentuk tertulis atau lisan, dan nontes dalam bentuk pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, portofolio, dan penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.

Penilaian hasil belajar untuk memperoleh ijazah Program Paket A, Paket B, dan Paket C dilakukan setelah peserta didik mencapai SKK yang disyaratkan.

f.    Pengawas Proses Pembelajaran

Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi.

Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh penyelenggara program, penilik, dan/atau dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi. Kegiatan supervisi dilakukan oleh penyelenggara program, penilik, dan/atau dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:

a). membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan pendidik dengan standar proses pendidikan kesetaraan,

b). mengidentifikasi kinerja pendidik dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi peserta didik.

Evaluasi proses pembelajaran memusatkan pada keseluruhan kinerja pendidik dalam proses pembelajaran. Kegiatan evaluasi dilakukan oleh penyelenggara program, penilik, dan/atau dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran dilaporkan kepada pemangku kepentingan dan sebagai referensi pelaksanaan program berikutnya.

Tindak lanjut mdapat berbentu penguatan dan penghargaan diberikan kepada pendidik yang telah memenuhi standar, atau teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada pendidik yang belum memenuhi standar, atau dapat juga pendidik diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.

g.   Administrasi Kelompok Belajar Kesetaraan

Sistem administrasi Pendidikan Kesetaraan adalah juga merupakan syarat mutlak. Untuk sosialisasi penyelenggaraan tentu dilihat dari sistem administrasi, terutama dalam hal penilaian penyelenggaraannya. Administrasi yang dibutuhkan adalah :

  1. Papan nama kelompok belajar
  2. Papan struktur organisasi penyelenggara
  3. Kelengkapan administrasi penyelenggaraan :

-       Buku Induk Warga Belajar

-       Buku Induk Tenaga Pendidik (Tutor dan Nara sumber Teknis)

-       Buku daftar hadir warga belajar

-       Buku Keungan/Kas umum

-       Buku daftar inventaris

-       Buku agenda pembelajaran

-       Buku agenda surat masuk dan keluar

-       Buku laporan bulanan Tutor/Nara sumber teknis

-       Buku daftar nilai warga belajar

-       Buku tanda terima ijazah

  1. Buku daftar tamu
  2. Buku daftar hadir pengelola
  3. Slogam visi dan misi penyelenggaraan dan
  4. Atribut lainnya yang dapat menunjang program pembelajaran pendidikan kesetaraan unggulan.

h.   Lesson Study Sebagai Usaha Peningkatan kompetensi Pendidik/Tutor

Lesson Study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community.

Lesson Study dapat dilakukan dalam kegiatan kelompok pendidik dalam hal ini tutor untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang diselenggarakannnya. Dapat juga diselenggarakan dalam Community Learning antara 1) tutor  dan 2) Pakar Pembelajaran.

a.   Kegiatan dalam Lesson study meliputi 4 tahapan :

1.   Planning atau merencanakan.

DAlam tahap perencanaann, para  tutor berkolaborasi dalam hal :

o   Identifikasi Masalah

o   Didiskusikan dalam Community Learning

o   Sumbangan pemikiran thd. Masalah

o   Penyusunan lembar observasi

o   Penyusunan perangkat pembelajaran diantaranya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, lembar kegiatan bagi peserta didik, media / alat peraga pembelajaran,  instrumen penilaian proses dan hasil belajar, dan lembar observasi pembelajaran

2.   Doing  atau melaksanakan.

Pada tahap ke dua, terdapat duah kegiatan utama yaitu :

o   Kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan seorang tutor ditunjuk untuk melakukan implementasikan planning,

o   kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas lesson study yang lainnya yang bertugas melakukan rekaman dan menilai plus minus terhadap praktek observasi.

Bebarapa hal yang harus diperhatikan dalam tahap pelaksanaan, diantaranya :

o   Tutor melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.

o   Warga belajar diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.

o   Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi tutor maupun warga belajar.

o   Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi warag belajar-warag belajar,  warag belajar-bahan ajar, warag belajar-tutor, warga belajar-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.

o   Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi Tutor.

o   Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.

o   Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar WB selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi WB dan diusahakan dapat mencantumkan nama WB yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman WB melalui aktivitas belajar WB. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar WB yang tercantum dalam RPP.

3.   Seeing atau merefleksi.

Tahap ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karenan upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para peserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaann pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan tutor yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.

Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap tutor yang bersangkutan).

Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.

4.   Tindak Lanjut atau Act.

Hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.

Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para tutor, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.

Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung pengelola kejar sebagai peserta Lesson Study, tentunya pengelola akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di kelompok belajar atau satuan pendidikan secara keseluruhan. Dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh tutor dan WB dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan pengelola dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan perhatian proses pembelajaran.

b.   Pelaksanaan Lesson Study, meliputi :

1.    Membentuk kelompok lesson study dengan kegiatan merekrut anggota, menyusun komitmen waktu khusus, menyusun jadwal pertemuan, dan menyetujui aturan kelompok;

2.    Memfokuskan lesson Study;

3.    Merencanakan Pembelajaran;

4.    Melaksanakan Pembelajaran di kelas dan mengamatinya ( observasi );

5.    Mendistribusikan dan menganalisis pembelajaran yang telah dilaksanakan;

6.    Merefleksikan pembelajaran dan merencanakan tahap-tahap selanjutnya

c.   Model Lesson study, dapat dilaksanakan pada tingkat tertentu, diantaranya :

1.    Berbasis Satuan PNF, pembentukan Lesson Study dengan anggota community learning terdiri dari tutor suatu mapel dalam satu kelompok belajar yang tergabung dalam satu PKBM atau satuan PNF Lainnya.

2.    Berbasis Kelompok Tutor, pembentukan Lesson Study dengan anggota Community Learning terdiri dari anggota forum tutor baik di tingkat wilayah.

d.   Seminar perencanaan dan hasil lesson study

Agar diperoleh pembelajaran yang baik, maka perencanaan perangkat pembelajaran suatu kelompok perlu memperoleh tanggapan dari kelompok yang lain

Pelaksanaan hal tersebut dapat dilaksanakan dalam suatu diskusi dan seminar perencanaan dan hasil lesson study atau pada kegiatan workshop forum tutor di tingkat wilayah.

e.   Manfaat Lesson Study antara lain :

1.            Mengurangi keterasingan tutor dari komunitasnya;

2.            Membantu tutor untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya;

3.            Memperdalam pemahaman tutor tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan kurikulum;

4.            Membantu tutor memfokuskan bantuannya pada seluruh aktifitas belajar siswa

5.            Menciptakan terjadinya pertukaran-pertukaran harapan untuk pemahaman berfikir dan belajar siswa

6.            Meningkatkan kolaborasi pada sesama tutor dalam pembelajaran;

7.            Peningkatan mutu tutor dan pembelajaran akan meningkatkan mutu lulusan;

8.            Tutor memiliki kesempatan untuk membuat bermakna ide-ide pendidikan dalam praktek pembelajarnnya

9.            Tutor mudah berkonsultasi kepada para pakar dalam hal pembelajaran atau kesulitan materi pelajaran

10.         Perbaikan praktek pembelajaran di kelas

11.         Peningkatan keterampilan menulis karya ilmiah atau buku ajar.

BAB III

KEUNGGULAN DAN KETERBATASAN

 

Secara umum di asumsikan pada model pembinaann pendidikan kesetaraan ini diprediksi memiliki keunggulan-keunggulan sehingga menjadi alternatif bentuk pembinaan kelompok belajar di masyarakat, tetapi juga disadari memiliki keterbatasan-keterbatasan. Keunggulan dan keterbatasan dimaksud diantaranya sebagai berikut :

A.   Keunggulan

1.     Lingkup isi yang lengkap diharapkan dapat memandu aspek-aspek penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan.

2.     Model ini dapat diadaptasi pada program Paket A, Paket B dan Paket C.

3.     Adapter ataupun user dapat mengembangkannya sesuai kondisi lapangan atau bersifat fleksibel, kecuali hal-hal yang menyangkut standar nasional pendidikan harus disesuaikan.

4.     Bila diterapkan di tempat yang lain dengan karakteristik yang sama dapat menyesuaikan.

5.     Khusus aspek peningkatan kompetensi pendidikan/tutor diprediksikan akan lebih efektif dalam proses pembinaan tenaga pendidikan/tutor pendidikan kesetaraan.

B.   Keterbatasan

  1. Model ini disusun dengan analisa kebutuhan di lapangan yang masih terbatas, sehingga mungkin belum memberi semua solusi bagi penyelesaian masalah pendidikan kesetaraan di lapangan.
  2. Model ini belum sepenuhnya diujicobakan dilapangan karena keterbatasan program yang belum memungkinkan.
  3. Memerlukan proses kajian yang panjang dan berulang untuk menjadikan model ini teruji dilapangan.

 


BAB IV

PENUTUP

 

Model ini pada dasarnya merupakan panduan atau setidak-tidaknya menjadi referensi bagi pihak-pihak yang akan menyelenggarakan pendidikan kesetaraan dan yang membina tenaga pendidik.

Penerapan panduan ini sebaiknya disertai dengan referensi-referensi lain yang berkaitan dengan pembelajaran kesetaraan, manajeman pendidikan dan menyesuaikan dengan standar nasional pendidikann yang sudah diberlakukan pemerintah melalui peraturan menteri nasional pendidikan (Permendiknas).

Tidak kalah pentingnya setiap rencana pembinaan memperhatikan keberlanjutan atau keterkaitan dengan program sebelumnya, sehingga pembinaan akan meningkatkan kualitas program pendidikan kesetaraan secara menyeluruh.

 

About evaumarmpd

PB SKB Jakarta Selatan P3PNFI DKI Jakarta

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

April 2011
S S R K J S M
    Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: